Senin, 24 Agustus 2015

THE SWEETEST MEMORIES

"LET ME BE THE ONE TO LOVE YOU MORE," ini adalah sebuah cerita yang aku gambarkan dengan kalimat tersebut.

Waktu itu tepatnya bulan Juli tahun 2014, ketika aku bersama ibuku sedang berbelanja di pasar, tidak sengaja bertemu dengan teman lamaku, sebut saja dia Upil. Saat itu ketika aku sedang ngobrol dengan ibuku, aku tidak sengaja menolehkan kepalaku ke sebrang jalan, dan melihat Upil yang sedang terseyum ke arahku. aku terkejut ketika melihat dia, aku pun langsung tersenyum kepadanya. Dan saat itu Upil sedang menemani ibunya juga berbelanja di pasar. Hal yang sangat aku ingat hingga sekarang adalah ketika Upil sedang menemani ibunya berbelanja, dia memakai celana pendek berwarna ungu, sungguh lucu ketika aku mengingat hal itu.

Setelah aku pulang dari pasar, aku menonton tv, saat itu ada film baru yang berjudul RUNAWAY, dan aku ingin sekali menonton film tersebut, tapi sayangnya tidak ada teman yang bisa menemaniku. Aku teringat akan suatu hal, dan hal itu adalah Upil. Akhirnya dengan cepat aku mengirimkan pesan kepada salah satu temanku yang bernama Molen, dan aku meminta kontak Upil kepadanya. Ketika aku mendapatkan pesan dari Molen, aku langsung menghubungi Upil. Dengan cepat aku langsung mengirim pesan seperti ini.
Aku: ngapain ke pasar? terus ngapain juga senyam-senyum sama aku? hahaha.
Upil: aku tadi nemenin ibuku, ya gapapalah senyum, nanti malah dibilang sombong lagi kalo aku ga senyum.
Aku: emang kamu sombong gitu?
Upil: ya... orang banyak bilang aku sombong tapi sebenernya engga kok, aku senyum kalo aku kenal banget sama orang itu.
Aku: oh pantes aja kamu senyum-senyum sama aku. oh ya... kamu ada waktu kosong ga hari ini?
Upil: ya kan sama kamu, makanya aku senyum hahaha. ada, aku mau bantu ibuku masak. kenapa emangnya?
Aku: tadinya aku mau minta temenin nonton Runaway, itu film indo, action gitu kayaknya bagus, tapi kamu ga bisa ya gapapalah.
Upil: iya, maaf ya ga bisa nemenin, kalo hari lain mungkin aku bisa nemenin.
Aku: akunya ga bisa, soalnya 2 atau 3 hari lagi akunya mau balik ke Bandung.

Setelah sedikit berbincang-bincang, aku dan Upilpun terus melanjutkan obrolan kami selama 2 hari. Awalnya aku menganggap ini adalah obrolan antar teman lama yang sudah lama tidak bertemu. Karena dulu aku pernah satu kelas dengan Upil di kelas 3 SMP, dia pun masih sering mengejekku dengan panggilan "Suceng" yang membuat aku marah dengannya dan selalu mencubit tangannya ketika dia menyebut panggilan itu. Dan hal ini pun terbawa sampai ke obrolan kami sekarang. Entah apa yang membuatnya sangat suka menyebutku seperti itu. Aku pun tidak tau alasannya, hanya saja aku risih ketika dia memanggilku seperti itu. Akhirnya aku menjadi kesal, akupun mengejeknya b*bi, t*i, kumis, dan lain-lain. Tapi dia tidak marah, bahkan hal yang menurut orang lain kasarpun dia tidak marah ketika aku memanggilnya "KAMPANG," dan Upil tidak sedikitpun marah kepadaku. Aku merasa heran, apa yang membuatnya tidak marah seperti itu? Aku pun masih berpikir sampai detik ini.

Keesokan harinya, adalah perayaan hari raya idul fitri. Aku membuat sebuah prediksi, JIKA... Upil mengirim sebuah pesan (pesan apapun itu) ke handphoneku, itu tandanya ada sesuatu yang belum aku ketahui. pesan yang dikirimkan Upil berisi seperti ini "Minal Aidin WalFaidzin ya, maafin aku kalo aku banyak salah sama kamu." Aku pun membalas pesan itu, "Minal Aidin WalFaidzin juga ya, maafin aku kalo suka ngejekin kamu hehehe." Dari pesan yang dikirimnya, akhirnya kami melanjutkan obrolan kami lagi, dan hal yang tidak terduga, dan suatu hal yang belum aku ketahui adalah... aku merasa, bahwa aku menyukainya, dan diapun menyukaiku. saat itu ada hal yang membuat kami selalu ingin mengobrol, entah hal itu seperti apa. Aku dan Upil merasakan perasaan yang berbeda, kami saling mengetahuinya, tapi kami tidak bisa mengatakannya. Aku sebagai seorang perempuan bisa apa dengan perasaan ini? Aku hanya bisa memberi sinyal dan menunggu, namun saat itu aku masih berpacaran dengan orang lain, tapi hubunganku renggang. Sedangkan Upil, dia tau dan dia merasakan tapi dia tidak mengungkapkannya, karena dia tau aku milik orang lain.

Ketika aku harus pulang ke Bandung, jujur aku merasa sedih, karena aku harus meninggalkan dia. Selama aku disana aku tidak pernah bertemu dengannya lagi, terkecuali hari dimana aku bertemu dengannya di pasar. Selama itu aku dan Upil hanya berkomunikasi via BBM. Aku lupa siapa yang pertama kali mengatakan kangen, yang pasti saat dimana aku tidak berkomunikasi dengannya, aku merasa kangen, dan kata kangen pun sering dia ucapkan padaku. Saat sedang mengobrol dengannya, aku meminta satu permintaan kepadanya...
Aku: Eh, kamu mau kan jadi ustad aku? aku mau kamu ingetin aku solat 5 waktu.
Upil: iya aku pasti ingetin kamu kok, aku bakal ingetin kamu solat terus.
Aku: yipiiiii, makasih ya kumis.

Dan hal itupun dia lakukan kepadaku, apa yang aku minta dia penuhi. Aku sadar, dia yang hanya aku anggap sebagai teman, mau memperhatikan aku dalam hal agama. Disitu aku merasa, seandainya saja dia milikku, alangkah bahagia hidupku. Lalu saat itu juga dia mengatakan bahwa dia kangen, dia mengatakan bahwa dia menyesal, mengapa waktu itu dia tidak bisa memenuhi keinginanku untuk bertemu.

Aku dan Upil semakin dekat selama 2 minggu, kami saling mengingatkan, saling memperhatikan, dan saling merindu. Tak ada hal yang bisa aku lakukan kecuali berkomunikasi dengannya via BBM. Aku merasa nyaman dengan kehadiran Upil, dia membuat hari-hariku yang datar menjadi lebih hidup. Dia selalu memberikan aku nasehat layaknya seperti orang dewasa. Tanpa aku sadari, aku menyukai kedewasaannya, aku menyukai caranya memperhatikan aku. Saat itu aku sedang ada masalah dengan pacarku, dialah yang mengingatkanku untuk selalu bersabar, dan dia juga mengatakan "jika kamu punya masalah, selesaikanlah dengan dewasa, dengan kepala dingin, dengarkan pembicaraan orang lain, yakin pasti akan ada jalan keluarnya." Hatiku terenyuh... jika saja aku bisa mengungkapkan isi hati ini, maka akan aku lakukan, namun aku tidak memiliki keberanian itu. Saat aku dekat dengan Upil, aku merasakan bahwa pacarku pasti akan memutuskan hubungan ini. Dan perasaanku benar, pacarku meminta aku untuk pergi dari hidupnya. Dengan lapang dada aku menerima keputusannya, aku menahan linangan air mata ini, jangan sampai ia terjatuh. Seketika aku langsung memberitahukannya kepada Upil. Dengan berpura-pura kuat, aku mengatakan "aku putus sama dia," namun hal yang dikatakan Upil adalah... "sabar ya, kamu kuat kok." Entah kenapa dia mengatakan hal seperti itu, karena bukan itu jawaban yang aku inginkan. Aku hanya diam melihat dia mengirimkan pesan itu, namun hatiku berontak, hatiku mengatakan "Aku putus sama dia, aku maunya sama kamu, tolong dong sadar, aku mau kamu, bukan dia."

2 minggu lebih kami tetap berkomunikasi seperti biasa, dan kami masih sering saling mengejek, bercanda, perhatian, kangen, dan juga saling mengingatkan. Rasanya hatiku sudah tidak mampu membendung perasaan ini, aku ingin dia jujur kepadaku tentang perasaannya, karena aku sudah mengetahuinya dari awal. Pada saat itu aku sedang mengikuti KKN, aku tidak begitu intens berkomunikasi dengan Upil, karena aku tau diapun sedang sibuk magang, dan aku juga sangat disibukkan dengan kegiatanku bersama teman-teman KKNku. Keesokan harinya ada hal yang aneh yang aku rasakan dari Upil. Biasanya dia mengingatkan aku solat dan makan, bahkan ada saja hal bisa dijadikan topik pembicaraan saat mengobrol dengannya. Tapi hari itu berbeda, aku terus menunggu kabar darinya, aku hanya bisa berpikir positive, aku takut ada hal yang tidak aku inginkan terjadi. Dan akhirnya sekitar jam 5 sore, Upil memberiku kabar, dan dia mengatakan "aku lagi ada masalah, aku mau tenangin diri dulu ya, jangan ganggu dulu, nanti aku hubungin lagi kok." Aku percaya dan mengiyakan permintaannya. Tapi kalau boleh jujur, hatiku tidak tenang, aku berusaha sabar menunggunya. Saat itu malam sudah semakin larut, tepatnya pukul 11 lewat sekian (sorry, I'm forget). Dan aku sudah dalam posisi ingin tidur, tapi saat itu aku iseng membuka RU di BBM, aku terus scroll kebawah, dan aku menemukan hal yang membuat aku merasa aneh seharian ini...
Display Picture yang dipakai Upil adalah fotonya bersama pacar barunya, dan Personal Messagenya adalah "terima kasih ya 140814." Saat itu aku merasa orang yang aku percaya selama ini hanya membohongiku, selama ini aku merasa dia hanya menjadikanku sebagai "ORANG NOMOR 2." Aku merasa dunia tidak berpihak kepadaku, hatiku sakit, aku hanya bisa menangis saat aku mengetahui hal itu. Aku langsung memberitahukan hal itu kepada teman  dekatku, yang tidur disampingku, sebut saja dia Ri. aku langsung memeluknya, aku menangis, dan dia langsung menenangiku, dia memelukku, dia menguatkan aku. 

Keesokan harinya Upil langsung mengirimkan sebuah pesan...
Upil: Maafin aku ya :( aku minta maaf banget sama kamu :'(
Aku: Oh iya gapapa kok, aku tau kamu, mungkin kamu susah buat ngomong ini ke aku, tapi aku ngerti kok, selamat ya, semoga kamu langgeng sama dia :)
Upil: Maafin aku :( aku pengen kita tetep jadi temen, aku pengen kita tetep gokil-gokilan kayak dulu. maafin aku, aku ga bisa, karena aku tau kamu itu temen aku, yang kedua, pacar kamu itu temen aku :(
Aku: iya gapapa, kita tetep temen kok, udah gapapa ga usah gitu banget :)

Setelah kejadian itu, aku benar-benar merasa dunia membuat aku menjadi kecil, membuat aku menjadi orang asing, sendiri, dan tidak ada orang yang berpihak kepadaku. Tapi aku mencoba untuk tegar, aku mencoba kuat, karena aku yakin, mungkin dia bukan orang yang tepat untukku. Sejak aku tau semuanya, aku jadi jarang berkomunkasi dengan Upil, aku menjadi cuek dan ketus ketika dia menyapaku. Aku sadari hal itu, dan mungkin dia pun merasa bersalah kepadaku. Seandainya dia tau kalau aku lebih memilih dia dibandingkan pacarku. Aku merasa kecewa dengan perbuatannya, karena kekecewaanku itu, akhirnya aku memutuskan untuk berusaha menjauhinya dan melupakannya.

1 tahun kemudian...

Belum usai semua cerita ini, masih ada hal yang sulit untuk aku lupakan. Dan hampir 1 tahun, aku sudah memimpikan Upil  sebanyak 25 kali. Sebelumnya tidak terpikirkan untukku menghitung semua mimpi-mimpi itu, karena mungkin hanya sekali atau dua kali aku bermimpi. Tapi setelah aku sadar sudah lebih dari 8 kali aku bermimpi, aku mengingat-ngingat mimpiku lagi, dan ku pastikan satu persatu, dan itulah yang membuat aku ingin sekali menghitung mimpi-mimpiku, ku pastikan karena aku menyimpan perasaan ini terlalu dalam, hal yang ku inginkan tidak tercapai, membuat semua keinginan ditekan ke alam bawah sadarku, sehingga muncullah mimpi-mimpi itu.

Beberapa bulan lalu, tepatnya 11 Juli 2015.
Aku pulang ke kampung halamanku untuk menemui orang tuaku, secara aku masih bergantung dengan orang tuaku, meskipun sekarang aku kuliah jauh dari orang tuaku. Saat itu yang ada dibenakku, aku hanya ingin bertemu keluargaku, dan teman-temanku, hal itu saja sudah cukup membuat aku bahagia. Tapi hal yang tidak terduga terjadi, saat hari selasa (21 Juli 2015), aku mendapatkan pesan dari teman lamaku, sebut saja dia DNP. Dia mencariku dan meminta kontakku yang lain agar bisa menghubungiku, karena aku sedang berada disana (di kampung halamanku), dan dia juga mengatakan bahwa Upil mencariku. Akhirnya aku memberikan kontakku. Beberapa jam kemudian Upil menambahkanku sebagai temannya di BBM. Aku menerima pertemanannya, dan dia langsung mengirimkan sebuah pesan...
Upil: Oi suceng, kamu ngomongin aku modusan, minta pin cewek. aku itu baru aktif, gigi, aku udah lama ga aktif, soalnya aku magang aku sibuk kuliah, ini lagi sibuk-sibuknya LA, selasa nanti sidang. makanya jangan asal-asalan. Apa kabar? hhee ;;)
PING!!!
Aku: Pantaaaatttt, bohong aja kamu tuh.
Upil: Aku tuh baru aktif pantat :)
Aku: Males aku -,,,,,-
Upil: Ya Ceng terserah deh
Aku: Baik alhamdulillah. bukannya kamu pacaran?
Upil: Mau percaya boleh, ga percaya juga ya udah. Aku nyariin pin kamu, untung DNP ada. ya udah terserah deh -..- Aku mandi dulu.
Aku: Aku suka ke pasar tapi kamu suka ga ada, tempat kita suka ketemu kan di pasar pil hahaha
Upil: Kepalamu, bukan tiap detik aku ada di pasar, kamu ini :( iya ya, masih inget ya? Kirain kamu udah lupa :'
Aku: Oi mau aku acc, pas aku buka di undangan ga ada, kamu tuh yang lupa sama aku. mana janji kamu, bilangnya mau nemenin aku? tuhkan janji doang. Malesssssss!!!! tau ga kamu, aku suka BBMan sm DNP, cuma dia temen aku waktu aku lagi sepi. untung dia ngirim message ke path aku, jadi aku bisa ngasih pin aku. kan BBM aku yang lama ga bisa dibuka.
Upil: Bilang aja di decline :( iya aku inget, kita mau nonton kan ;;) aku inget kok, cuma ga ada kabar gara-gara aku sibuk banget, pusing kepala aku gara-gara kuliah, habis wisuda nanti liburan beneran aku, sumpahlah. iya maaf oi :( aku nih inget, cuma ya gimana aku sibuk :( BBMan sama DNP? Ohhh :') 
PING!!!
Marah-marah aja sih kamu nih, orang ga salah :( suceng ini, kamu itu lupa.

Itu hanya sebagian obrolan antara aku dan Upil, setelah itu aku to the point dan langsung mengatakan pada Upil "Ayo jalan-jalan" dan kami berdua pun merundingkan hari apa yang pas untuk jalan-jalan, setelah mengobrol panjang lebar, akhirnya kami putuskan pada hari rabu (22 Juli 2015) untuk jalan-jalan. 
Hari itu, hari yang paling aku tunggu-tunggu selama ini, hari dimana aku ingin sekali melepaskan rindu yang selama ini hanya terpampang di layar handphone dengan tulisan "KANGEN."
Akhirnyaaa!!!! setelah sekian lama, janji yang Upil ucapkan 1 tahun yang lalu, kini bisa ditepati. Siang itu aku masih pergi bersama ibuku, namun sore harinya aku ada janji dengan Upil. mau tidak mau, akhirnya aku memaksa ibuku untuk cepat pulang, agar aku bisa bertemu dengan Upil. Di perjalanan pulang Upil selalu menyuruhku agar jangan lama, dan aku pun menyuruhnya untuk sabar.
Aku: Sabar Fans =D dari pada kamu aku suruh cepet-cepet, nanti kamu malah gelabakan =)))
Upil: -..- cubit nih kamu, cuma aku udah siap, sumpahlah ya, kalo kata kamu, aku pergi sekarang
Aku: iya tunggulah oiiiii
Upil: -,-" kira-kira berapa menit lagi nyampe, kok aku gugup -_- padahal yang mau ditemuin ini cabe-cabean
Aku: ini udah di jaya, Fans mau ketemu artissssssssss, oiii terong busuk ini
Upil: Ya, kalo nyampe kasih tau
Aku: Aneh kamu nih, gugup aja ngomong =))) iya oi biji
Upil: Iyaa mpanggg

Setelah aku sampai di rumah, aku memberikan Upil kabar supaya dia cepat datang ke rumah. Sekitar 25 menit kemudian Upil sampai di rumah ku! Sumpah aku pun merasakan hal yang sama, aku tidak gugup, namun aku tidak mau menatap wajahnya, karena aku malu. Aku menyuruhnya untuk menunggu sebentar. Setelah itu aku menyuruhnya masuk ke rumah dan menyuruhnya untuk duduk. Kemudian aku menawarkan minum.
Aku: Mau minum apa? Atau mau air keran aja?
Upil: Air comberan aja sekalian =)))
Aku: Aku serius nih, mau minum apa?
Upil: ........................., masih lebaran loh, minta maaf kek :))
Aku: iya minal aidin, maafin aku kalo ada salah hehehe

Tidak lama kemudian, setelah di tawarkan minum, tapi Upil pura-pura tidak mau, akhirnya aku memutuskan untuk langsung pergi saja. setelah itu aku dan Upil berpamitan dengan ibuku. Saat itu aku membawa 1 kaleng susu Milo yang beku, tiba-tiba Upil langsung meminta minumanku begitu saja. Dengan polos pun aku langsung memberikan minumanku. Setelah itu aku dan Upil menuju TKP. 
Sesampainya disana Upil bingung mau menonton apa. Aku hanya memberikan beberapa referensi film yang sudah aku cari, Jurasic World, The Age of Adeline, Surga Yang Tak Dirindukan. Akhirnya kami memutuskan untuk menonton Ant Man. Berhubung saat itu masih dalam suasana lebaran, bioskop pun penuh dengan kumpulan manusia, antrian pun panjang, dan Seat yang aku dan Upil dapatkan adalah nomor 2 dari depan!!!!! (OH MY GOD)
Setelah masuk ke dalam teater, aku dan Upil langsung mencari tempat duduk, dan tempat duduk itu membuat mataku sakit, tapi aku nyaman karena ada Upil disebelahku. Sesekali Upil menggangguku ketika aku sedang serius menonton, dia sengaja menyenggol tanganku, dan diam-diam mencubit tanganku. Aku yang tadinya serius menonton, akhirnya menjahili Upil, dan malah mencubit lama-lama tangannya, sampai Upil kesakitan. Setelah film selesai, kami langsung pergi dari bioskop dan tidak sengaja bertemu dengan salah satu temanku dan Upil, yaitu RAW. Spontan dia memanggil namaku dengan keras, aku terkejut dan langsung menghampirinya, kemudian aku langsung membisikan sesuatu ke telinga RAW, "aku jalan sama Upil loh" (sambil senyum sumringah). RAW terkejut mendengar apa yang aku ucapkan, kemudian dia bertanya, "mana orangnya?," aku langsung memanggil Upil, dan Upil pun menghamipiri aku. Upil dan RAW mengobrol sebentar, dan setelah itu kami langsung pergi meninggalkan RAW, dengan alasan bahwa Upil mau solat.

Kemudian jalan-jalan di malam hari ini belum selesai, dan Upil masih menemaniku jalan-jalan. Setelah ini Upil mengantarkan aku ke suatu tempat untuk mengambil tiket pesawat. Sesampainya disana, kami berdua langsung masuk dan duduk sebentar, tiba-tiba Upil mengatakan seperti ini, "aku jadi pilot kamu aja ya, biar bisa aku anter jemput, jadi kamu ga harus ninggalin aku." Aku langsung spontan menjawab, "ya udah beli sana pesawatnya." Sampai sekarang kata-kata yang Upil ucapkan masih membanjiri kepalaku. Setelah ini kami langsung pergi untuk makan malam. Aku menyarankan untuk makan di rumah makan yang aku suka, tapi tempatnya tutup. Akhirnya, mau tidak mau, kembali ke Mall, dan makan di Mall (lagi). Saat kami sedang makan, di meja sebelah kami, ada orang yang memiliki anak kecil. Karena aku suka dengan anak kecil, aku spontan memanggil Upil dan mengatakan, "Upil liat deh, itu anaknya lucu banget, ya ampun, lucu ih." Tapi Upil hanya meresponku dengan senyuman mautnya. Aku langsung menanyakan suatu hal...
Aku: Kamu ga suka anak kecil ya?
Upil: hehehe iya
Aku: Terus gimana nanti kalo udah punya anak?
Upil: Ya... kan lain lagi ceritanya

Aku dan Upil menyelesaikan makan malam kami. Setelah aku selesai, aku langsung mengeluarkan handphoneku, dan ku arahkan tepat di depan Upil. Tanpa dia sadari, aku mengambil gambar Upil secara diam-diam. Saat kami bergegas untuk pulang, minum yang aku bawa, diminta lagi oleh Upil, dan tidak segan-segan dia meminum minuman punyaku (lagi).
Setelah itu kami langsung pulang ke rumah, di jalan aku selalu mengobrol dengan Upil, dan menempelkan daguku dipundaknya. Sesekali aku menempel-nempelkan jariku di pinggangnya, dan hal itu membuat dia geli, dan tidak diam saat membawa motor. Saat di jalan Upil tiba-tiba mencubit tanganku sambil menarik tanganku kedepan perutnya. Aku tidak bisa apa-apa, disitu aku hanya bisa diam. Upil mengantarku sampai ke rumah, dan Upil langsung pulang dan tidak pamit dengan ibuku, karena sudah malam.

Tidak sampai disitu saja, setelah ini Upil masih memberiku kabar, dan aku mengingatkannya untuk bersih-bersih. Kami masih tetap berkomunikasi sampai handphoneku mati, baru aku dan Upil bisa pergi tidur. Keesokan harinya Upil mengirimkan BBM seperti ini...
Upil: Aku panggil poni aja ya? ;;) Kamu mau balik pula, cepet banget :( Sedih aku.
Aku: Nah itu lebih lucuuuu <3<3 Aku juga sedih mau balik :(
Upil: Poni cabe-cabean :p Jangan putus semuanya :( Jangan pernah berubah ya
Aku: Iya aku pasti nungguin kamu disana. Kalimat yang terakhir bikin aku terharu :') Buat kamu, aku ga bakal pernah berubah.
Upil: Iya makasih udah nunggu disana, Janji ya? Aku ga bakal berubah jg Poni sama kamu, nanti kita sms-an aja ya kalo kamu udah disana, telponan juga ya.
Aku: Janji Kumis, kalo kamu berubah aku nangis lagi loh pil kayak waktu itu, iya pasti sms-an, iya nanti kita telponan.
Upil: Aku juga janjiiii, jangan nangis :((((( ga bakal lost contact lagi aku
Aku: Kamu ke bandungnya cepet dong, kalo engga cegat aku di bandara, kayak di film-film gitu hahaha
Upil: hahahaha dramatisir banget :p Kampang ({})
Aku: Kamu ngejekin kampang terus.
Upil: Kamu yang paling ku sayang Poni.

Setelah itu kami masih tetap melanjutkan obrolan kami sampai malam seperti biasa, bercanda, kangen-kangenan, saling ejek, dan ada satu hal yang tidak aku duga-duga, yang tidak pernah aku bayangkan dan tidak pernah aku harapkan beberapa bulan terakhir. Aku menangis, dan aku tidak mampu menahan air mataku, tapi aku merasa bahagia melihat pesan yang dikirimkan oleh Upil.
Upil: Babi ini kamu mau balik, aku tuh kangen oon :(
Aku: Sini dipeluk ({}) aku juga pernah kangen kok sama kamu, bahkan kangennya kangen parah.
Upil: Thanks ({})
Aku: Percaya ga selama 1 tahun aku mimpiin kamu udah 25 kali?
Upil: Aku juga kangen parah ini :( kenapa disaat gini waktunya ga memungkinkan ya :' Iya gitu?
Aku: Bisa diceritain kangen parahnya gimana? Apa ada keluhan senyum-senyum sendiri? kepikiran aku? Baca ulang chat dari aku?
Upil: Kangen parah itu disaat otak aku cuma ada kamu, hati aku kangen sama kamu, sedih seneng itu semua ada, tapi banyak kangennya
Aku: Ya mau gimana lagi? emang udah jalannya begini, yang penting kita sama-sama punya janji yang harus ditepatin, jadi disitulah kita bisa ketemu. Aku juga pernah ngerasain itu, malahan waktu kamu sama orang lain, aku kangen banget sama kamu, mau ngehubungin ga bisa, dan akhirnya kebawa mimpi deh hihihi.
Upil: Iyaa, jangan lupa sama janji, jangan pernah berubah juga :( ({}) Aamiin, kita harus ketemu :(
Poni aku sayang kamu t*i :'(
Maaf :(
Aku: Aku ga lupa sama janji aku kok, selama 1 tahun aku berusaha untuk ga kangen sama kamu tapi susah, sampe akhirnya aku harus cerita ke Molen/DNP. Mereka yang selalu dengerin cerita aku tentang kamu. Sumpah aku nangis baca BBM kamu pil. 
Upil: Karena kita sama-sama seneng, t*i :( aku ga lupa sama janji aku, ya gimana kalo kangen ditahan, aku aja ga bisa :( Jangan nangis aku mohon :(

Pesan darinya menyadarkan aku, betapa susahnya aku selama ini menunggu tanpa tau kepastiannya, namun yang dia berikan untukku sudah lebih dari apa yang pernah aku harapkan. Aku sadar selama ini aku menyimpan perasaan yang terlalu dalam, dan terlalu mengharapkannya, tapi aku tidak pernah tau, kehendak tuhanlah yang membuat semua ini terjadi, entah karena rasaku, atau karena keyakinanku, atau karena memang takdir tuhanlah yang menentukan semua ini. And this is for the first time, aku menangis karena bahagia. Dia pun jujur, dan mengatakan bahwa dia merasa nyaman saat (1 tahun yang lalu) aku dan dia mulai dekat, aku pun mengakuinya kalau aku nyaman didekatnya. Namun banyak hal yang membuat aku dan dia akhirnya memutuskan untuk saling menjauh, itu karena aku yang masih berpacaran dengan pacarku, namun Upil merasa bahwa dirinya salah, tapi dia selalu saja merindukan aku, dan memikirkan aku. Aku pun sama seperti Upil, aku sadar bahwa dia juga saat itu baru memiliki pacar, namun perasaan ini tidak bisa dibohongi. Upil berpacaran dengan orang lain, dengan alasan, bahwa aku pasti akan kembali lagi dengan pacarku. Dengan keadaan terpaksa, dengan rasa sakit ketika aku tau bahwa Upil dengan orang lain, dan saat itu aku di desak oleh orang tua pacarku untuk kembali dengan pacarku, awalnya aku menolak dan aku tidak mau, tapi karena orang tuanya sudah baik denganku, akhirnya aku pun menerima dengan keadaan terpaksa, dan berat hati. Upil juga tidak ingin menjadi perusak hubungan antara aku dengan pacarku. Tapi perasaan ini tidak bisa bohong, sampai kapan aku terus bertahan dengan keterpaksaan dan pura-pura sayang atau cinta, tapi sebenarnya hatiku untuk orang lain? Akhirnya aku mengatakan hal yang jujur, bahwa yang aku butuhkan dan yang aku cari ada pada Upil, namun saat itu aku mengatakan bahwa aku tidak akan terlalu berharap, saat 1 tahun kemarin aku mengaharapkannya, aku takut kecewa dan sakit lagi. Dan Upil pun mengakuinya bahwa dia menyayangi aku, dan dia ingin bersamaku, dia nyaman denganku, tapi Upil menyuruhku untuk melanjutkan hubunganku dengan pacarku, dan dia juga mengatakan bahwa dia akan selalu ada untukku, dan dia sudah berjanji itu denganku.

Jumat, 24 Juli 2015
[Hari dimana aku harus segera kembali ke Bandung]
Pagi itu aku mendapat pesan dari Upil...
Upil: Poniiii
Aku: Apa Upillll????
Upil: Kamu tuh ngabarin engga, udah balik kamu? Bales singkat-singkat -_-
Aku: Apa sih marah-marah, tabok nih =)) Aku tadi lagi packing, tapi udah selesai kok, sekarang lagi sarapan. Aku belom berangkat oiiii, mandi juga belom :p Jangan kangen ya hahahaha
Upil: Kamu dari mana, kamu ga ngabarin aku sih. Iya tabok aja gapapa. Pantesan asyem :& Mungkin kamu yang kangen sama aku :p
Aku: Dari hati orang ke hati kamu -,- Kan habis beres-beres nyet, marah aja nih -,- issss emang kamu udah mandi? udah pasti kangen, emang kamu, lupa sama aku -,-
Upil: hahahaha :p lah siapa yang marah, cubit nih ;;) udah ya aku mandi, sebenernya aku ga mandi-mandi juga tetep wangi Poni, bukan kayak ketek kamu, ketek kuah hahaha. Ya pasti lah Poni kangen, masih nanya pula :)
Aku: Alangkah jorok babi ini, orang lagi makan -,- Kampang!!! Oh kangen ya, kirain ga kangen :p
Upil: hahahahaha maafffff oi, aku ga tau ;;) is bukannya kamu seneng kalo kamu jorok :D ga pake kampang berapa :' Makanlah dulu
Aku: Ga sejorok kamu babi -,- ga pake kampang mahal harganya ;;)

Sampai siang, aku dan Upil masih melanjutkan obrolan kami berdua. Lagi-lagi Upil mengatakan kangen, dan telponan berulang-ulang. Dan ku alihkan dengan mengirim gambarku waktu masih kecil, dan Upil mengatakan bahwa mukaku tetap seperti itu, muka-muka mengesalkan, dan dengan emoticon =D dan ({}). Setelah itu Upil memintaku untuk mengirim semua fotoku yang ada di handphone.
Upil: Kirim foto kamu ni, nanti aku off, kangen :( Kenapa muka kamu mirip bos kamu ya Poni?
Aku: Lucu kan muka aku kayak orang cina =))) iya nanti aku kirimin tunggu aja. Iya aku kan anaknya, oon.
Upil: Iya sipit-sipit, muka kamu Ya Allah imut banget =D hahahaha iya kirimin ya, jangan engga -_- Oh anaknya, kirain anak tikus :p
Aku: T*iiiiii, mentang-mentang aku kecil jadi kamu bilang aku anak tikus :(
Upil: Yah marah \=D/ hahahaha, kecil-kecil aku sayang kok

Aku dan Upil masih mengobrolkan hal yang konyol, saling ejek, bercanda lagi seperti biasa, tapi ada satu hal yang membuat aku sedih untuk meninggalkannya. Dia melarangku pulang :')
Upil: Iya jangan balik :') ya, makan sana Poni, solat. Oh mau balik? Mau ninggalin aku :" Take care Poniku :( ({}) :'( Kampang kan :'(
Aku: Ga ninggalin Upil kok :( Makasih ya Upilku ({}) Jangan sedih ({}) Aku sayang kamu ({})
Upil: Jangan tinggalin walaupun kamu disana :( sama-sama Poni ({}) :( Kamu jangan nangis terusssss :( Aku sayang kamu juga :'( ({})
Aku: Ga bakalan ninggalin kok :( aku ga nangis, aku seneng, soalnya aku udah bisa main sama kamu walaupun cuma sehari ({})
Upil: Iya jangan genit-genit, jangan nakal walaupun kamu jauh :( Iya aku juga seneng, tapi sedih kamu tinggalin aku lagi, nanti kita ketemu lagi kan :( ({})
Aku: Iya aku ga bakal nakal, ga bakal genit :( Jangan sedih bulu nanti kan ketemu :(
Upil: Iya bagus, maaf ya aku bawel banget :( iya Poni, jangan sedih juga ya kamu. Kalo kamu sedih, aku juga sedih -_-
Aku: Gapapa oi, aku seneng liat kamu bawel =D apa lagi pas kamu nyuruh aku pake helm, padahal aku ga mau -,-
Upil: :( hmmm Iya oon banget, itu tuh panas, debu, oon banget ga pake helm 
Aku: Justru panas pake helm oon. Poni aku rusak, lepek, berminyak -,-
Upil: Biji ini, aku mikirin kamu, kamu mikirin poni -,- Hati-hati ya Poni :) ({}) nanti aku kabarin, daah Poni sayang ({})({})({})

Ketika aku berada di pesawat, aku melamun, dan aku memikirkan suatu hal, baru saja kemarin aku bertemu Upil, jalan-jalan, nonton, dan makan bersama, tapi sudah dipisahkan lagi, meskipun itu cuma satu hari, tapi rasanya waktu berjalan begitu cepat, tau-tau aku sudah berada di tempat yang berbeda saat itu, entah kapan aku bisa bertemu dengannya lagi, aku kangen... Aku langsung memberikan kabar kepada Upil karena aku sudah sampai di bandara, Upil mengingatkan ku agar aku jangan nakal, jangan genit, dan dia mengatakan bahwa dia kangen padaku. Dia juga mengingatkan aku untuk solat dan makan yang banyak. Aaaahhh... Aku suka perhatiannya :') Aku kangen pil!!!
Setiap hari aku dan Upil tidak pernah absen BBM-an, bahkan kami tidak pernah bosan untuk saling ejek, bercanda, dan kangen-kangenan. Rasanya seperti LDR (Lelah Disiksa Rindu). Saat itu aku mengirimkan pesan seperti ini...
Aku: Pake cinta mau? =))
Upil: Mau ni, mau banget Upil
Aku: Mau banget pake cinta ya?
Upil: Iya mau, asal cinta kamu
Aku: Iyalah emang mau cinta siapa lagi -,- Pengen ketemu kamu lagi :(
Upil: Iya Poni, cuma kamu, cuma kamu, sebaliknya juga, cuma aku yang boleh cinta sama kamu :( Gimana? Nanti telponan ya tapi kalo aku udah sidang, kangen banget :(

Obrolan ini bila di jelaskan tidak akan pernah habis, sama seperti rindu ini yang tidak ada habisnya. Namun ditengah-tengah obrolan, Upil memintaku untuk memberinya saran dengan situasi seperti sekarang ini, dia bingung. Aku pun bingung, aku diantara 2 orang, diantara 2 pilihan yang sangat sulit untuk dipilih, namun saat itu aku sudah punya keputusan, siapa yang harus aku pilih. Aku tidak bisa memberi taunya sekarang, karena aku tidak mau ada yang berubah antara aku dan Upil. Saat itu juga Upil mengatakan tak apa bila aku dengan pacarku, dia senang, walaupun dia sakit, hanya saja Upil memintaku jangan pernah berubah, dia ingin aku seperti yang dia kenal dulu. Di sela-sela obrolan serius Upil masih bisa memberitahukan kepadaku kalau dia kangen...
Upil: Poni, aku kangen ni sama kamu Ya Allah
Aku: Pake "Ya Allah" biasanya kangen parah banget tuh :p
Upil: Iya emangnya kenapa, aku ga munafik ya, kirim foto kamu banyak-banyak ya :(
Aku: Buat apa foto banyak-banyak?
Upil: Kalo aku kangen kan bisa liat foto kamu Poni :(
Aku: Iya nanti aku kirim, batre handphone aku tinggal 10% :(
Upil: Iya nanti kita foto berdua aja, banyak-banyakin tapi, jangan engga ya
Aku: Iya nanti kita foto berdua banyak-banyak, jangan ga seneng aja yaaaa
Upil: Issss kamu ga seneng berarti mau foto sama aku :( huu
Aku: Seneng kok, siapa yang ga seneng mau foto sama monyet bulu ;;)
Upil: Aku juga pengen foto sama cabe-cabean ({})

Kemudian Upil mengatakan padaku bahwa dia sedih, dia belum mendapatkan tanda tangan dosen, dan dia stress karena akan menghadapi sidang. Karena aku jauh, aku hanya bisa memberinya support, sebenenarnya aku ingin ada disampingnya ketika dia sibuk, dan memberikan sedikit bantuan padanya :') Akhirnya aku mengirimkan gambar burung goreng yang masih utuh dengan kepala, sayap dan kaki. Aku kirimkan kepada Upil agar dia sedikit terhibur dan melupakan hal yang membuatnya stress. Setelah itu aku kirimkan fotoku, dengan kata-kata "semangat buat sidangnya, jangan stress, lupain hal yang lain dulu, fokus sidang, terus berdoa, semoga dilancarkan, dan dimudahkan Allah SWT. Semangat Upilku :*({})." Alhamdulillah, Upil jadi semangat,dan tidak sedih lagi. Upil juga meminta maaf karena dia selalu mengadu, dan menjadikan aku sebagai tempatnya untuk berkeluh kesah. Aku pun membalasnya dengan senang hati, aku mengerti apa yang dia rasakan, maka dari itu aku selalu memberinya semangat, dan artinya aku bagi Upil adalah orang yang dia percaya, yang bisa dijadikan tempat untuk sharing.
Beberapa saat kemudian, Upil mencoba mengganti topik pembicaraan menjadi lebih serius. Dia mengatakan padaku, kalau dia jadi pacarku, dia akan menjagaku, membahagiakan aku, dan tidak akan membuatku menangis. Dia juga mengatakan kalau dia menyayangi aku, jika Upil menjadi aku, kalau Upil diputuskan oleh pacarnya, ya sudah tidak perlu kembali padanya. Karena Upil mengasihani aku, terutama hatiku yang tersiksa terus-menerus, aku berhak memutuskan hubungan ini, dan aku berhak untuk tidak disakiti. Upil ingin aku bersamanya, asalkan aku tidak memiliki hubungan apapun dengan orang lain, asalkan aku juga menyayangi Upil, Upil akan terima aku apa adanya, sebaliknya aku pun seperti itu terhadap Upil, dan Upil tidak menuntut apa-apa. Upil ingin aku jujur, tidak aneh-aneh, setia, ingat kalau ada orang yang sayang pada kita, jangan pernah disia-siakan. Itu yang Upil katakan padaku. Aku pun membalas dengan singkat, bahwa aku juga menyayanginya, aku tidak akan aneh-aneh kalau orang itu juga tidak melakukan hal yang aneh-aneh. Kemudian Upil membalas BBM ku seperti ini, "Iya, aku juga ga mau nyia-nyiain orang kayak kamu, karena kamu sayang sama aku, aku harap kamu juga ga nyia-nyiain aku :( Aku ga bakal aneh-aneh orangnya, kalo udah sayang, ya udah sayang aja, ga kepikir untuk ke hal-hal yang lain." Aku tersentuh dengan apa yang dikatakan Upil, aku sangat yakin dan percaya pada ucapannya. Setelah membahas masalah yang serius ini, kami tetap dalam obrolan seperti biasanya, hanya saja intensitas komunikasi kami berkurang beberapa hari ke depan, karena aku tau Upil sedang sibuk menyiapkan Sidangnya, dan aku juga sibuk belajar untuk menyiapkan ujian tengah semesterku.

Rabu, 29 Juli 2015
Saat itu aku mendapatkan SMS dari Upil, dia mengatakan bahwa dia sudah menyelesaikan sidangnya (Alhamdulillah), dia menanyakanku kapan terakhir ujian, dan dia merindukan aku. Saat itu Upil masih merasakan tekanan dari sidangnya, dia masih merasa stress, Upil mengatakan bahwa ini adalah stress yang paling parah dalam hidupnya. Aku menanyakan mengapa beberapa hari ini tidak ada kabar, dan aku langsung teringat janji Upil untuk menelponku setelah dia selesai sidang. Dia memberi tau, kalau dia sedang sakit :') Jujur saja aku cemas, waktu aku tau dia sakit, tapi aku tidak bisa apa-apa :'( aku hanya bisa mengingatkannya untuk istirahat, makan yang teratur, dan banyak minum air putih, aku tidak ingin Upil sakit :') Lalu upil hanya menjawab kalau dia sakit hati karena menahan kangen :') Akhirnya hari itu aku hanya menyuruhnya untuk istirahat lebih cepat, agar besoknya Upil segera sembuh.
Keesokan harinya aku menanyakan hal yang sama, apakah dia masih sakit atau tidak, dan aku mengingatkan dia untuk banyak istirahat. Sedih rasanya mendengar kabar Upil sakit. Dan dia masih bisa mengkhawatirkan aku saat dirinya sedang sakit, dia juga melarangku untuk keluyuran, tapi dia mengizinkan aku keluyuran kemana saja untuk melepas rindu dengannya.

Jumat, 31 Juli 2015
Upil mengirimkan pesan untukku...
Upil: Selamat pagi sayangku Poni, jangan lupa sarapan, selamat beraktifitas ({}):*
Aku: Selamat pagi juga Upil sayang :*({}) udah sarapan? Gimana demamnya? sekarang udah mendingan belum? :( Jangan lama-lama sakitnya :(
Saat itu aku masih merasa sedih, karena Upil belum terlalu sehat, tapi dia mengatakan kalau dia sudah sembuh, dan kalau mau cubit aku, cubit saja. Itu kata Upil. Disela-sela obrolan aku langsung mengatakan kepada Upil, "cepet kesini dong :(" dan Upil menjawab "iya-iya doain biar cepet kesana :*". Dan aku mengaminkan jawabannya. Saat itu aku senang, aku masih bisa berkomunikasi dengan Upil, dia selalu memberikan aku semangat ditengah kesibukan kuliahku, dan dia juga tidak pernah lupa mengingatkan aku untuk makan, solat dan belajar. Dia juga mengatakan kalau dia sayang padaku, aku juga membalasnya kalau aku sayang padanya.  Tak bisa dihindari, meskipun Upil dekat denganku aku masih saja memimpikannya, dan hal itu aku sampaikan kepada Upil. Upil sendiri heran kenapa aku bisa memimpikannya. Aku pun menjawab, "kalo aja dari awal aku catet mimpi aku tuh gimana tentang kamu, aku rasa udah jadi novel romantis hahaha." Namun kadang aku merasa kesal dengan Upil, selalu saja dia membahas orang lain ketika aku mengobrol dengannya. Dan dia sendiri yang meminta kalau aku tidak boleh munafik, sudah ku katakan aku tidak bisa dengan orang itu, aku tidak bisa berpura-pura untuk menyembunyikan perasaan ini kalau aku memang menyayangi Upil, hampir setahun aku menahan perasaan ini, dan sekarang sudah tidak bisa aku tutupi lagi.

Sabtu, 1 Agustus 2015
Pagi itu aku mengirimkan SMS pada Upil, tapi Upil baru membalas SMSku pada malam hari. Dia mencemaskan aku, karena aku belum makan dari pagi. Aku langsung memintanya untuk menelponku. Dia marah kalau aku mengulangi hal ini lagi, dan dia mengatakan akan membenciku, kalau aku tidak makan seharian seperti ini. Saat itu Upil lama membalas SMSku, ternyata dia sedang memikirkan sesuatu.
Upil: Poni aku lagi mikir
Aku: Mikir apa?
Upil: Aku sekarang mikir, kapan kita bisa sama-sama. Dan setelah itu ada hal buruk ga yang bakal terjadi
Aku: Kamu maunya kapan?
Upil: Bagusnya ni? Kondisinya kan aku ga tau kamu sama dia.
Aku: Kalau aku udah ga sama dia, kamu mau apa?
Upil: Aku pengen sama kamu Poni :(
Aku: Iya, aku selesai kok sama dia
Upil: Hah? Bohong?
Aku: Serius, aku ga bohong. Aku ga bisa ngejalani hubungan dengan dua orang sekaligus, aku harus milih, kalo aku ngejalanin dengan dua orang sekaligus, aku egois namanya.
Upil: Terus aku ga mau rasa sayang kamu kebagi dua, aku tuh tau kalo udah lama pacaran itu rasa sayangnya pasti beda. Kalo kamu milih aku, aku harus buat yang terbaik, harus! :)
Aku: Iya, makanya aku harus milih. Aku milih kamu bukan sekarang, tapi dari 1 tahun lalu Pil. Jujur, 1 tahun lalu hati aku tetep sama kamu.
Upil: Iya Poni aku percaya :) Aku pengen sama-sama ni, aku pengen kita ngejalani suatu hubungan, yang dilandasin dengan kasih sayang yang tulusssss banget, jangan aneh-aneh, setia, jangan nyia-nyiain orang yang sayang sama kita, kita harus percaya, kalo aku ga mandang apa-apa sih, cuma aku liat dari hatinya aja.

Bukaaaaaannn, SMS di atas bukan tanda jadian. Saat itu Upil ingin menelponku, dan ku izinkan dia menelponku. Akhirnya kami berdua membahas obrolan yang tadi di telpon. Setelah mengobrol kurang lebih satu jam, akhirnya dia memintaku untuk menjadi sesuatu... Sesuatu di hidupnya. Tapi tiba-tiba telponnya terputus, Upil langsung mengirimkan SMS seperti ini, "Poni pulsa aku habis :' padahal aku tadi mau ngomong, aku itu pengen kamu punya aku Poni, aku pengen sama kamu :"' coba kamu telpon aku." Aku langsung menelponnya, dan dia langsung bertanya...
Upil: Jadi gimana? 
Aku: Apanya yang gimana? 
Upil: itu... kamu mau kan jadi pacar aku?
Aku: hmmm... gimana ya? Aku tuh males sebenernya pacaran, pengennya nikah aja hahaha :p
Upil: yaaaa... jadi kamu ga mau?
Aku: hehehe becanda kaliii, bukan ga mau, iya-iya aku mau :$
Upil: So...?
Aku: So...? Toy!
Upil: So...?
Aku: May!
Upil: Jadi, kita pacaran kan sekarang?
Aku: iya kita pacaran.

Aku senang bisa menjalin hubungan dengan Upil, aku merasa dunia ini hanya milikku dan miliknya. Awalnya memang aku malas untuk berpacaran, tapi aku tidak bisa menolak Upil, karena aku sayang padanya, dan aku juga ingin bersamanya. Yang aku takutkan dari pacaran dengannya adalah, kalau nanti semua itu berbeda, semua akan terasa lebih serius, identik dengan hal-hal yang romantis, dan tidak bisa saling ejek lagi. Tapi hal itu aku katakan dari awal, karena aku ingin terus seperti ini. Dan Upil mengatakan hal seperti ini padaku, "mending pacaran rasa PDKT." Disitu aku hanya tertawa saja.

It's a new day! Thank you for coming in my life, you change my world, you change my life. Betapa bahagianya aku, ketika Upil menjadi bagian hidupku. Setiap hari aku berdoa agar semua tetap seperti ini. Entah apa yang membuat aku menyukai perhatiannya, tawanya, senyumnya, apapun yang ada di dirinya. Aku suka itu! Setiap hari Upil tidak pernah absen memberiku kabar, setiap malamnya, aku dan Upil selalu membuang pulsa untuk telponan, rasanya aneh saja kalau aku tidak mendengar suaranya, apalagi tawanya, pasti aku kangeeeeennn :')
Saat telponan dengan Upil, aku memutar lagu To Love  You More dari Celine Dion, dan lagu itu aku berikan untuk Upil. Dia menyukainya, dan aku menyuruhnya untuk mendengarkan lagu itu. Aku sebutkan sedikit liriknya kepada Upil...
"I'll be waiting for you
Here inside my heart
I'm the one who wants to love you more
You will see I can give you 
Everything you need
Let me be the one to love you more..."
Upil mengatakan bahwa lagu itu bagus, maknanya sangat dalam, dan dia juga mengatakan padaku kalau dia harus mendengarkan lagu itu setiap hari.
Beberapa waktu lalu aku pernah berjanji akan mengirimkan voice note untuk Upil, dan hari itu aku memberikan rekaman lagu To Love You More yang aku nyanyikan sendiri kepada Upil, ya... aku sadar suaraku tidak begitu bagus, yang terpenting adalah lagu itu menggambarkan betapa aku akan selalu menunggunya, aku bisa memberikan semua yang dia butuhkan, dan biarkan aku menjadi seseorang yang mencintainya dengan utuh dan lebih :')

7 hari setelah jadian...
Saat itu aku sedang asik BBM-an dengan Upil, mengobrolkan hal apapun yang bisa membuat kami tertawa. Tiba-tiba mantan pacarku datang, dan langsung mengetuk pintu kamarku, dan itu sedang maghrib. Aku terkejut, aku pikir orang lain, dan aku langsung membuka pintu. Aku menyuruhnya menunggu di luar, karena aku ingin solat, kemudian setelah aku selesai solat dia langsung masuk ke kamarku dan menumpang untuk solat. Setelah itu aku mengajaknya mengobrol di luar, dan tiba-tiba dia memintaku untuk meminjamkan handphoneku, dia memaksaku dengan cara mengambil handphoneku di dalam kamar, aku marah, karena aku pun tidak ada niat untuk memeriksa handphonenya, aku merasa privasiku diganggu. Aku mencoba mengambil handphoneku, tp dia menahanku, dia tetap memegang handphoneku, memeriksa isi handphoneku dan aku tetap mencoba untuk mengambilnya, akhirnya aku sudah tak tahan, aku pun menangis. Saat itu masih ada SMS yang lama dari Upil, dia membacanya, dan dia marah, kalau dia tau aku dekat dengan Upil. Dia langsung menamparku, karena dia tau aku dekat dengan Upil. Aku mengatakan "sudah kembalikan handphoneku," tapi dia tetap menahan handphoneku. Sampai malam aku bertengkar karena hal itu. Akhirnya setelah itu dia pulang.
Setelah kejadian ini, aku langsung melihat handphoneku yang lain, karena aku mendapatkan BBM dari Upil, Upil cemas karena aku tidak membalas BBMnya. Setelah aku balas BBM dari Upil, akhirnya Upil tenang, dan aku menceritakan kejadian yang baru saja terjadi. Awalnya aku tidak ingin menceritakan hal itu, tapi karena aku sayang pada Upil, dan aku tidak ingin ada yang ditutup-tutupi, maka dari itulah aku menceritakan semuanya. Aku menelpon Upil, aku ceritakan semuanya, dan Upil tidak menyangka  bahwa hal ini akan terjadi. Upil memastikan bahwa besok orang itu pasti akan datang lagi. Aku hanya meyakinkan Upil semoga besok tidak terjadi apa-apa, dan tidak akan terjadi hal seperti ini lagi. 

Keesokan harinya, ketika aku baru bangun tidur, aku mendapatkan banyak BBM dari orang itu (mantan). Dan aku tidak akan pernah mau sedikitpun untuk membalas BBM darinya. Dan saat itu juga aku mendapatkan BBM dari Upil, aku tidak sempat membalas BBM Upil karena tiba-tiba saja orang itu datang lagi, menawarkan aku ingin sarapan apa. Aku menolaknya dan mengucapkan terima kasih. Dia mencoba masuk ke kamarku lagi dan mencari handphoneku yang lain. Aku memaksanya keluar, dan aku berontak, aku mengatakan jangan paksa aku! Dia tetap mencari handphoneku yang lain, dia mengacak-ngacak kamarku untuk mencari handphone itu. Aku menyembunyikannya dalam tas, dia mencoba menghubungi handphoneku dan terdengarlah getaran handphoneku yang ada di tas. Dia membuka BBM dari Upil, aku mencoba merebut handphoneku tapi tak bisa, aku menangis lagi, karena aku sudah tak tahan dengan semua ini. Akhirnya dia membaca obrolanku dengan Upil, dan dia langsung mengirim pesan yang tidak sopan (menurutku) kepada Upil. Aku tetap membela Upil, karena aku yang memilihnya, tapi saat itu Upil malah menyuruhku kembali dengan mantanku, jujur aku tidak mau! Dan yang aku inginkan hanyalah Upil. Aku tidak habis pikir, kalau Upil sayang padaku mengapa dia tidak mempertahankan aku? Mengapa dia membiarkan aku dengan orang itu?

Malam harinya, setelah kejadian itu terjadi berturut-turut, Upil merasakan ada hal yang ganjal, dia tidak yakin, bahkan aku pun merasakan hal yang sama, namun aku merasa takut, dan ragu untuk menjalani hubungan ini. Tapi aku yakinkan diriku dan Upil, bahwa semua ini adalah cobaan. Namun ada hal yang berbeda dari Upil, mungkin Upil merasa bersalah, tapi untuk apa merasa bersalah? Toh aku yang memilihnya. Dan aku pun tidak menjalani hubungan itu dengan dua orang sekaligus kan? Dan Upil sendiri mengatakan bahwa dia ingin bersamaku. Seharusnya jika memang dia sayang dan mencintaiku, dan melihat pengorbananku yang memilih dia, dia pasti tidak akan sedikitpun melepaskan aku dengan orang lain (lagi).

Akhirnya, tanggal 9 Agustus 2015, Upil mengakhiri hubungannya denganku, karena dia merasa ada yang tidak enak, dia ingin masalah ini aku selesaikan dengan mantanku. Upil berjanji jika keadaan ini normal dia akan kembali padaku, dan akan segera menjalin hubungan ini lagi. Dia berkata bahwa dia akan tetap menyayangiku, akan tetap menjagaku dari jauh, kalau sudah waktunya kita pasti akan bersama kembali. Itu yang Upil katakan padaku. Dan saat itu juga aku lost contact dengan Upil.


Dear...
Upil/kumis/pempek dos/gandum/monyet bulu/bulu/terong ungu, a.k.a Mr.GS...
A lot of things that make us not be together. You let me, I let you, but actually our heart never want to let go. I know the separation is not our desire. My heart remains the same, fixed on you!!! You know how much I miss you? when I miss you, I always cry, I always see your photos on my phone. I read back our message. But now I can't do anything, I always pray to God, may I and you can meet again. You know how much I love you? More than I love my body, and my self. You know? You can change my whole world be better. You make my world so colorful. You like an angel that always protect me. Also, your attention can make me feel better. I know we are so far, far, far away, but your love always inside my heart. I miss your smile, I miss your mustache, I miss your laugh, I miss your joke, I miss your attention, and I miss our conversation. I always remember your promise, eating ice cream together, watching movies again, hang out but only you and I, and go wherever we loved. I believe, you will definitely keep your promise!
When you read this, and when you're aware, please immediately find me, then we can do what we want together :')


When you believe in love, so keep that love in earnest.
No matter how far away you are, if love is there, then that the love will come back.

With love

Poni